Lu Siapa Anjeng!?

Pernah gak kalian dimaki orang yang sebenarnya kita gak kenal-kenal amat, terus dengan gaya sok jagoan dia maki kita "Lu siapa, Anjeng?"

Saya sebenarnya sudah jawab, tapi kayaknya orang itu sudah terlalu emosi. Jadi mana mungkin dia bisa dengar jawaban saya.

"Gue Sidik Bro, dan makasih udah ngenalin diri lu!"

Tapi emang orang kek gitu, agak budek. Ketutupan emosinya yang meledak.

Anehnya, dia gak sadar kalo semua temannya sudah pasang muka gak enak dengan nada dan bahasa sarkasmenya. Seperti kebanyakan orang yang gak percaya diri. Mulut kotor dan kasarnya hanya sebagai senjatanya mengintimidasi orang lain.

Semakin lucunya, dia merasa superior ketika berhasil melampiaskan emosi palsunya untuk menutupi rasa takutnya yang luar biasa.

Pernah saya melihat betapa takutnya seorang pencopet yang sedang beraksi di depan mata saya, saat saya masih SMP. Sedikitnya ada 4 orang copet berbadan besar dan kekar yang sedang beraksi, dan dengan wajah polos saya menepuk pundak seorang pencopet yang sedang meraba-raba tas seorang wanita paruh baya yang tak sadar jadi target operasi gerombolan itu.

"Maaf Bang, itu tas tante saya....!" kata saya dengan suara pelan dan agak gemetaran. Tapi tak ada rasa takut sedikitpun kecuali tetap waspada dari segala hal terburuk yang bakal terjadi.

"Hapah?! Lu siapa Anjeeeng?" teriak kasar si copet kaget karena tak menyangka dirinya yang berbadan besar itu dicolek anak SMP yang besarnya cuma setengah dirinya. Saya pun cuma menatap matanya dengan nanar, siap menerima segala resiko.

Dan Plaaak!!! Tangan kekar itu mengeplak kepala saya keras sekali, sehingga orang-orang satu bis PATAS PPD bisa mendengarnya jelas. Lebih parah dari itu, lelaki kekar bertattoo itu mengeluarkan sebuah pisau belati berukuran sebesar golok, dan menghantamkan ke sandaran besi kursi tempat si wanita muda yang hendak jadi korbannya. Wanita itu terkejut dan secara refleks menarik tasnya menjauh dari si tukang copet.

"Bangsat, lo anak kecil... Berani banget lo ganggu gue!!!?" Kali ini si copet sudah emosi tinggi, namun saya bisa merasakan ketakutannya yang luar biasa saat dia menghantamkan goloknya ke pegangan besi dalam bisa kota itu. Trang...!!! Trang... Trang...! Tiga kali dia hantamkan goloknya sambil maju ke pintu keluar bus di bagian depan.

"Jangan macam-macam ya!!! Gue orang baru aja keluar dari penjara...!" teriaknya memaki ke semua orang, tapi perlahan dia maju hendak keluar.

"Hei, Supir...! Brenti di depan... Ini anak kecil anjing, ngomong sembarangan... Untung aja luh...!" belum selesai dia bicara, sang supir bus mendadak menghentikan bus. Dan ke empat pencopet tersebut berebutan turun. Ahhh.... anti klimaks banget... Gak ada korban, kecuali kepala saya yang masih terasa perih dikeplak si pencopet berbadan kekar itu. Kamvret!

Tapi setidaknya saya dapat pelajaran... betapapun orang yang paling menyeramkan sekalipun, meskipun dia teriak kasar dan berbadan besar segede gaban, tapi rasa takut bisa menghampiri. Lalu mengapa dia bisa merasakan ketakutan? Sangat sederhana jawabannya. Karena dia sadar betul dia merasa bersalah, paling tidak di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Kecuali sudah tak ada kebaikan di dalam hati atau dirinya. Jika ada orang yang sejahat itu, tak punya lagi nilai kebaikan dalam hatinya, berarti itu orang fasiq. Orang fasiq itu jauh lebih kejam dan lebih jahat daripada orang kafir. Meskipun tak separah orang munafik.

Jika kita bertemu dengan orang fasiq dan tentunya mereka yang sudah tak punya hati sama sekali, wajib hukumnya kita untuk bersiap tempur dan memeranginya dengan segala cara. Itulah sebabnya sebagai manusia yang sehat dan normal, kita harus belajar bela diri dasar. Setidaknya ilmu membunuh musuh dengan tangan kosong, dengan kecepatan tinggi. Serius....!

Komentar

Postingan Populer